>Samsung Modus 3500 Review

>

Samsung Modus 3500 Review

Introduction and Design:

Convenience is the quintessential luxury that manufacturers attempt to steer with their product offerings, but in the case of most Bluetooth headsets, they mostly gravitate to being a monotone solution. Sure there are some stereo Bluetooth earphones that will get the job done, but they can obviously be a bit more cumbersome in carrying around. However, the Samsung Modus 3500 aims to be a double dose solution with its mono to convertible implementation – while still being easily portable and compact. Packaged with the Bluetooth headset are 2 ear hooks, 3 ear gels, microUSB wall charger, clip, wired stereo headphone, and a user manual.

Samsung Modus 3500 Review
Samsung Modus 3500 Review

From a quick inspection, the Modus 3500 is a normal-looking headset that’s constructed out of glossy white plastic with some chrome trims to accent its design. However, it doesn’t necessarily exhibit something strikingly spectacular seeing that it feels hollow and looks much like a cookie cutter headset – but it’s very light weight.

Samsung Modus 3500 Review
Samsung Modus 3500 Review
Samsung Modus 3500 Review

The Samsung Modus is a compact looking headset

Thanks to the rubbery ear buds with loops, it provides for a sufficient snug fit without the aid of the ear hook. Conversely, you’ll be required to clip it on if you prefer using the standard ear bud – but still, it comfortably hugs onto your ear without becoming too irritating during long usage.

Samsung Modus 3500 Review
Samsung Modus 3500 Review

On its sides, we’re presented with an LED light indicator and power switch which conveniently allows you to confirm for sure if it’s on or off. Additionally, we find the distinctive feeling and adequately sized volume rocker as well. And thanks to its noticeable talk button, you won’t have to fumble around with your finger to find its placement. In the rear, the microUSB not only accepts power to charge the headset, but it’s also the connection for the included wired headphones to enable stereo usage. Finally, there is one pin-hole for the microphone found towards the end of the boom while another one is located in the surface near the multifunction button.

Samsung Modus 3500 Review
Samsung Modus 3500 Review
Samsung Modus 3500 Review

The volume rocker

The power switch

Performance:

Samsung Modus 3500 Review

Taking it out of the box and powering it on for the first time automatically places the Samsung Modus 3500 into pairing mode, from there, it didn’t require much work for us to connect it with an iPhone 4 and Samsung Epic 4G thanks to its multipoint capability.

Thanks to the physical volume rockers, it naturally provides you the ability to quickly modify its level at any given time. When set to its highest setting, the earpiece is more than deafening to make it extremely audible for even people with difficulty in hearing. Thankfully, it doesn’t distort the quality of audio as it resonates with some serious power. Unfortunately, voices sound broken up and crackly in tone, which doesn’t help on top of the exuberant amount of static noise that’s evident.

Even though it states that it packs noise cancellation technology, our callers still experienced an abundant amount of noise that’s picked up by the headset’s microphone. From subtle knocks to the wind, it distorts our voice which makes for some difficulty during conversations. However, in quiet conditions, our callers had no issues in comprehending our voice.

When the stereo headphones are connected, they provide an ample amount of volume to make listening to music such an eventful experience. Plus, the buds on the headphones provide a subtle amount of suction when they’re placed into ear to lightly keep out some environmental noise. Granted that it’s a lot better to carry around these wired headphones, you’re still presented with the problem of storage when they’re not being used.

In our testing, the fully charged Samsung Modus 3500 managed to pull out 6 hours of continuous talk time before it ran out of juice – which is what the manufacturer has it rated for. However, it doesn’t have the rapid charge time of some recent headsets we’ve checked out. So that means you’ll be required to let it charge for a period of time to get it to a sufficient usable level.

Conclusion:

Aside from its ability to transition from a mono headset to a stereo one with its included wired headphone attachment, its performance and lackluster set of features doesn’t contend with other modern offerings. Moreover, we’re not too thrilled by its below average calling quality and ordinary looking design. When you look down at it, the $69.99 price point it holds shouldn’t break the bank for most people, but there are other similar offerings that provide better performance in a variety of aspects.

Pros

  • Convertible headset implementation
  • Snug fit

Cons

  • Poor calling quality
  • Noise cancellation is lacking
  • Ordinary design

Sumber : http://www.phonearena.com

Posted in Handphone, Review, Samsung | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment

>DC Ranch Scottsdale

>

In the last month we were looking for a comfortable home for families with comprehensive facilities. And we found that provides the DC Ranch Scottsdale. with excellent service and satisfaction, we granted options in accordance with our wishes.
Currently we have a spacious and comfortable home for the family. now we can live peacefully in our new home.
if you want to follow us and want to find a better place to live, then the DC Ranch Scottsdale is the answer.

Posted in Blogvertise | Leave a comment

>pusing, gagal wisuda bulan depan.

>hari ini semua serasa kacau, karena kajur lama salah nginput data di kampus, aku jadi gagal wisuda bulan depan.
cape’ deh….

Posted in wisuda | Leave a comment

>Solusi Problem CVT Honda BeAT

>


Motor matic memang termasuk motor yang nyaman untuk dikendarai. Mekanisme mesin skubek memang kompak. Itu karena skubek didukung CVT yang terdiri dari puli primer dan sekunder dengan kopling sentrifugal (otomatis). Saking kompaknya, skubek enggak butuh pemindah gigi. Ya, seperti Honda BeAT, suara mesin dan putarannya terbilang sangat halus mulai dari rpm bawah sampai atas.

Tapi, sehalus-halusnya CVT, kalau salah satu komponen bermasalah repot juga. Selain timbul suara berisik, tunggangan seperti tersendat mulai mesin dihidupkan hingga grip gas dibuka untuk jalankan motor matik.
Biasanya belt di puli mulai kotor, roller miring (peang), lubang alur di mangkuk puli skunder skunder agak terkikis atau mangkuk kampas kopling sentrifugal tiddak rata lagi. Makanya timbul suara aneh dan jalan skubek enggak normal.
Namun sumber semua masalah selain cara pakai yang kasar, juga tergantung dari cara pemilik merawat mesin. Apalagi komponen di CVT rawan debu, oli dan air. Ketika sudah tidak peduli lagi, komponen gampang rusak hingga timbul berisik atau jalan tersendat.
Cara paling sederhana jaga kondisi CVT agar tetap baik yaitu hindari 3 hal itu. Misal selalu bersihkan filter udara CVT setiap 3 bulan atau berbarengan saat servis berkala. Namun jika filter udara mulai berpori besar, tersumbat atau robek segera diganti dan tidak bisa ditawar.
Jika debu campur air masuk ke rumah CVT dan mengendap di belt atau roller, kedua komponen bukan cuma cepat terkikis tapi akan timbulkan suara mendecit. Parahnya lagi jalannya tunggangan tidak lencer lagi.
Persolan juga bisa dari cara pakai dan perawatan. Apalagi kalau komponen CVT juga gunakanan pelumas khusus berupa gemuk (grease) tidak dilakukan penggatian secara berkala. Makanya disarankan untuk melakukan pelumasan rutin setiap satu tahun sekali.
Sumber : ototips.otomotifnet.com
Posted in Beat, CVT, Honda, Matic, Motor | Leave a comment

>Honda Vario Sering Mati Mendadak? Nih Penyebabnya!

>

Kasus Honda Vario mati mendadak jadi momok pemiliknya. Memang bikin panik, meski setelah didiamkan sejenak atau distarter bisa langsung kembali menyala.
Trus apa penyebabnya? Sebelum menyalahkan skubek Honda paling laris ini, sebaiknya instropeksi diri terlebih dahulu. Pasalnya, penyebab utamanya akibat human error. Mati mendadak pada Vario karena kehilangan kompresi. Ada dua penyebab. Yang pertama karena kesalahan saat melakukan penyetelan jarak kerenggangan klep (gb.1).
Kompresi pada Honda Vario tergolong tinggi, mencapai 10,7:1. Kompresi tinggi menghasilkan suhu tinggi di ruang bakar. Kalau terlalu tinggi, klep dan pelatuk (rocker arm) akan memuai.
Saat memuai, pelatuk akan terus mendorong klep sehingga kompresi bocor. Makanya ketika di selah akan terasa ngelos. Ini karena tidak ada kompresi. Saat mesin dingin, jarak kerenggangan klep akan kembali normal dan bisa dihidupkan lagi.
Tak heran bila sebenarnya Honda menyarankan kerenggangan klep yang cukup renggang untuk Vario. Dipatok 0,16 mm untuk klep masuk dan 0,25 mm untuk klep buang.
Bandingkan dengan Honda BeAT yang kompresinya lebih rendah, hanya 9,2:1. Kerenggangan klepnya bisa lebih rapat, hingga 0,14 mm untuk klep masuk dan buang.
Agar presisi, melakukan setel klep harus menggunakan alat ukur bernama filler (gb.2). Lempengan plat tipis ini menjadi patokan kerenggangan antara klep dan pelatuk klep.
Lalu, penyebab kedua adalah akibat tumpukan karbon di ruang bakar. Karbon (kerak diruang bakar) sering mengganjal klep sehingga klep terus terbuka dan kehilangan kompresi.
Begitu distarter lagi, karbonnya rontok dan bisa hidup kembali, Kalau yang ini harus dibersihkan secara berkala.
Biasanya di bengkel umum atau jaringan bengkel resmi Honda menawarkan service besar yang salah satu itemnya adalah melakukan pembersihan di ruang bakar.
Artinya, asal perawatannya benar, enggak akan mati mendadak.

 
Posted in Honda, Matic, Motor, Vario | Leave a comment

>Pahami Pelumasan Mesin Skutik, Yuk Ikuti Petunjuk!

>

Mendengar kata pelumasan di skutik, jangan hanya terpaku pada oli mesin saja lo. Soalnya ada beberapa bagian lain yang juga butuh pelumasan serta penggantian pelumasnya secara berkala.

Yuk kita telaah bagian demi bagian itu. Karena jika sampai lolos dari perhatian, tandanya sobat enggak sayang sama motornya dong. Hehehe..!

Kalau untuk mesin, rata-rata penggantian periodik dilakukan minimal setiap 2.000 – 2.500 km. Tapi ingat, oli yang digunakan jangan asal lo. Pilih yang sesuai spesifikasi. Untuk skutik, sebaiknya gunakan yang berspek JASO MB. Karena oli ini cenderung lebih licin dan khusus dibuat untuk mesin kopling kering.

Maklum, pada skutik mesin cenderung bermain di putaran tinggi. Sehingga butuh pelumas yang lebih licin dan encer biar sirkulasi olinya cepat merambat ke semua komponen bergerak di silinder dan kepala silinder.

 Makanya lazimnya oli matik punya tingkat kekentalan atau SAE (Society of Automotive Engineers) lebih encer dari oli motor berkopling basah kayak bebek dan sport.

Bagian berikutnya yang juga kudu diperhatikan adalah oli girboks atau gigi reduksi. “Di skutik Honda, oli ini disarankan diganti setiap 8.000 km berbarengan dengan servis bagian CVT,” bilang Wedijanto Wi­darso, Manager Tecnical Departemen Service Divison PT Astra Honda Motor (AHM) beberapa waktu lalu.

Beberapa bagian komponen bergerak pada CVT wajib dilumasi menggunakan grease khusus tahan panas secara berkala

Rata-rata hampir sama pula dengan skutik merek lain. Tapi di matiknya Suzuki, sarannya setiap 5.000 km. Lalu khusus Yamaha Xeon, setiap 9.000 km.

Lantas oli apa yang harus digunakan? Menurut beberapa mekanik, untuk girboks gak masalah pakai oli mesin.

“Makin kental makin bagus. Tapi takarannya sedikit saja, sekitar 100 – 150 cc tergantung motornya,” bilang M. Fadli, juragan Fadli Motor di Jl. Raya Bogor Km.41,5 yang kerap menangani matik.

Namun kalau dari pabrikan sih rekomendasinya pakai oli khusus untuk gigi reduksi. Masing-masing pabrikan sudah mengeluarkan oli khususnya kayak Yamalube Gear Oil (Yamaha), SGO (Suzuki), AHM Oil Transmission Gear (Honda).

Lalu bagian mana lagi yang butuh pelumasan? “Beberapa komponen bergerak pada sistem CVT wajib dilumasi menggunakan grease khusus secara berkala. Sekalian membersihkan ruang CVT dari  kotoran dan debu. Untuk produk Yamaha umumnya setiap 10.000 km,” beber M. Abidin, Manager Technical Departement Service Division PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) beberapa waktu lalu.

Untuk produk Honda, kata Wedijanto setiap 8.000 km. Nah, bagian yang dilumasi antara lain primary sliding sheave berikut spacer-nya, secondary sliding sheave serta secondary­ fixed sheave dan sebagainya. (motorplus.otomotifnet.com)

Posted in CVT, Matic, Motor | Leave a comment